Posted by: Ruang Kota | 30/11/2011

Pembentukan dan Pertumbuhan Kota di Indonesia

Menurut Werner 1987, ”Kota-kota besar dan kecil di kepulauan di India, termasuk yang ada di Indonesia memiliki akar sejarah tersendiri. Tempat-tempat ini secara umum dibagi dalam empat strata utama dalam formasi perkotaan, yakni pendirian kota-kota baru, masyarakat agrikultural – yang kemudian berkembang menjadi pusat dominasi asli yang baru,  pusat-pusat perdagangan dan pusat-pusat administratif. Kedua strata yang terakhir membentuk tempat yang dahulunya pedesaan”. Masih menurut Werner (1987), prasyarat paling penting untuk formasi awal pembentukan kota sudah ada di nusantara sebelum periode Hindu, hal ini dapat diindikasikan dengan adanya institusionalisasi pemerintahan yang diatur oleh seorang penguasa. Pada saat itu ada dua jenis tipe masyarakat perkotaan yang sedang berkembang yakni, masyarakat yang memiliki dominasi pekerjaan berdagang di pelabuhan dan pusat dominasi kegiatan pada kekuasaan lokal (pedalaman).

Pada periode pengaruh kerajaan Hindu, Islam dan periode awal kekuasaan Eropa (1400-1700M), perdagangan merupakan faktor utama pada pembentukkan masyarakat dengan karakteristik perkotaan, meski tidak secara langsung namun perdagangan mempercepat proses feodalisasi dalam sebuah komunitas asli. Sementara pada masa Pemerintah Kolonial (1700-1900) pertumbuhan perkotaan lebih efektif dirangsang dengan menggunakan faktor politis/administrasi ketimbang dengan faktor kegiatan perdagangan. Masih menurut sumber yang sama menyebutkan bahwa kotadi Indonesiamemiliki tiga karakter yaitu, permukiman nelayan, permukiman industri manufaktur dan pertambangan dan permukiman pariwisata.[1]

Jika kita telusuri sebelum kedatangan Portugis dan Belanda, di Indonesia hampir tidak kita dapati satu kotaatau bekas kotayang berarti. Namun, yang ada adalah kotapantai atau bandar sebagai pusat lalu lintas perdagangan terbatas, seperti Palembang(pada masa Sriwijaya), Barus di pantai Barat Sumatera, Tanjung Perak di Surabaya. Sementara itu, di pusat-pusat kerjaan Nusantara juga masih dapat kita jumpai bekas kotayang terbentuk dengan kegiatan sebagai pusat pemerintahan, seperti Yogyakarta, Solo dan kotakecil lainnya di Bali. [2]

Menurut Marbun 1994, pertumbuhan kotadi Indonesiamelalui sejarah yang cukup panjang. Kota-kota di Indonesiasaat ini bukan merupakan bentukan atau warisan dari zaman keemasan kerajaan Nusantara terdahulu, tetapi merupakan bentuk dan kreasi sejarah dan faktor kebetulan yang kemudian diteruskan dan dibina penjajah Belanda selama 350 tahun. Pada mulanya kota-kota di Indonesia terbentuk akibat faktor-faktor, yaitu sebagai pusat pemerintahan kolonial, sebagai pusat niaga dan sebagai pelabuhan serta terminal untuk memasok berbagai bahan kepentingan pemerintah kolonial.[3] Bertolak dari pembentukankota yang merupakan hasil dari aktivitas dominan sebuahkota, maka sesuai tuntutan kebutuhan warganyakota terus tumbuh menyesuaikan dengan perkembangan dunia.

Bentukan, kreasi dan faktor kebetulan yang mendorong pertumbuhan bagi sebuah kotasehingga akhirnya dapat membentuk ‘citra’ suatu kota(seperti dituturkan Marbun 1994) tentunya ditunjang oleh keutamaan fisik alamiah dari sebuah kota. Seperti halnya, posisi atau keutamaan fisik alam Kota Cilegon yang berada di pesisir pantai dan berbatasan (terpisah oleh Lautan) dengan lempengan Sumatera sehingga dapat memposisikan Kota Cilegon sebagai Kota Pelabuhan (Merak). Jakarta sebagai kota perdagangan karena kondisi fisik alam yang merupakan wilayah dataran dengan posisi strategis dengan jalur darat yang secara langsung berbatasan dengan wilayah Tangerang, Bekasi dan Depok yang merupakan supplier sekaligus konsumen dari berbagai barang yang diperjualbelikan di Jakarta, selain jalur darat, jalur laut dan udara juga memberikan kemudahan bagi kegiatan perdagangan sehingga wilayah yang dijangkau kota ini dalam kegiatan perdagangan lebih luas, kondisi ragam jenis barang dan ditunjang aksesibilitas yang baik jelas menarik konsumen dari berbagai wilayah untuk ke Jakarta melakukan transaksi perdagangan. Maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas dominan yang dapat membentuk kota dapat diasumsikan sebagai akibat dari suatu sebab yaitu kondisi/keunggulan fisik alamiah kota, bukan karena kebetulan semata. Hal ini juga diperkuat oleh Branch (1996) yang menyatakan bahwa bentuk kota secara keseluruhan mencerminkan posisinya secara geografis dan karakteristik tempatnya.[4]

Mendukung pernyataan di atas, menurut Werner 1987 dalam perkembangan kota-kota di Indonesia mengungkapkan beberapa identitas kota dengan berbagai ciri fisik yaitu, bagi sebuah desa nelayan adalah letak permukiman yang berada di tepi pantai atau muara sungai, atau juga tepi danau yang tidak curam, bukan hutan bakau, dan tidak berlumpur, selain itu juga memiliki akses ke laut lepas. Sementara itu, Kotaindustri manufaktur dan kotatambang umumnya berkembang karena dorongan dari perkembangan infrastruktur, motorisasi, dan perkembangan jasa-jasa pelayanan, selain itu umumnya tipe kotaini di Indonesiaterletak diluar/bersebelahan dengan kotapemerintahan. Sedangkan kota pariwisata, secara fisik seperti karakter alamnya memiliki keunikan atau keistimewaan, seperti sumber air panas di wilayah tropik, lokasi di wilayah pegunungan atau perbukitan seperti Bandung, secara non fisik seperti keunikan etnik dan budaya.[5]

Kota Batavia misalnya telah dibangun dan dibesarkan oleh perdagangan yang sudah berkembang sejak kekuasaan Tarumanegara (abad ke-5 dan ke-6M) sampai dengan 20M  dengan titik utamanya Pelabuhan Sunda Kelapa dan berbagai keterlibatan pedagang yang berasal dari Eropa, Gujarat maupun Cina. Demikian kuatnya dominasi kegiatan ini sampai Pemerintah Hindia Belanda mellihat dominasi kegiatan ekonomi pesisir ini sulit ditembus karena kebanyakan penguasa kota-kota pesisir telah menjalin kerjasama dengan Inggris  yang merupakan pesaing Belanda dalam kolonialisme di nusantara pada saat itu. Kemudian pertumbuhan fisik kota Batavia diteruskan ke arah Selatan dengan memberikan tembok pertahanan yang memanjang dan menghadap ke Timur, Selain itu Batavia juga dilengkapi dengan dinding kota dengan 15 sudut tembak meriam, semua peralatan ini dibangun untuk pertahanan sekaligus mengantisipasi serangan Mataram saat itu.[6] Untuk mendeteksi sejarah dan dominasi aktivitas yang membentukkota yang pada pemerintahan yang berwenang dapat kita perhatikan dari karakteristik lingkungan binaan yang dibangun oleh pemerintahkota saat itu. Trend pertumbuhannya pun akhirnya disesuaikan dengan kebutuhan warga yang tinggal di dalamnya.

Pada awal pertumbuhannya, permukiman urban di Indonesia masih diwarnai oleh tradisi pedesaan yang dipengaruhi oleh struktur agraris dengan kehidupan sosial yang bertumpu pada ekonomi gotong royong. Namun seiring berjalan waktu, sebagian kelompok masyarakat merasa perlu melengkapi dirinya dengan budaya tulis-menulis, misalnya Sansekerta, Jawa Kuno, Arab Melayu, sehingga mereka menghasilkan peradaban kota, sedangkan yang tidak akan tetap berpegang pada peradaban desa dan kelompok ini jelas akan tertinggal. Lebih lanjut, pertumbuhan kota menghasilkan sistem pelapisan sosial dan birokrasi yang ternyata berhasil mendorong masyarakat agar mampu menghasilkan surplus pertanian dan industri domestik yang hasilnya akan mendukung kebudayaan kota.[7]

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kota di Indonesia

Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pertumbuhan kota-kota di Indonesia awalnya didorong oleh :

  1. aktivitas kota (baik dominasi kegiatan pemerintahan/politis, perdagangan, pertahanan, pertambangan, manufaktur, dsb) yang pada akhirnya membentuk citra (image) kota. Citra kota tersebut dapat menentukan struktur simbolis yang akan diperhatikan, diingat dan dianggap penting oleh oleh kelompok-kelompok pemukim di kota itu atau oleh para pengunjung.[8] kemudian;
  2. aktivitas kota tentunya sangat ditunjang oleh potensi fisik wilayah;
  3. penduduk kota (baik penduduk asli maupun pendatang) yang melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan hidupnya di kota juga merupakan tulang punggung penggerak dinamika kehidupan kota;
  4. Berbagai faktor-faktor di atas akhirnya perlu ditunjang dengan faktor kebijakan politis  pemerintahan yang berwenang yang juga mendorong tumbuh dan eksisnya suatu kota.


[1] Werner Rutz, Urbanization of the Earth 4, Cities and Town in Indonesia,Stuttgart,Berlin, 1987.

[2] Marbun, Kota Indonesia Masa Depan, Masalah dan Prospek, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994

[3] Marbun, Kota Indonesia Masa Depan, Masalah dan Prospek, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994

[4] Melville C. Branch, Perencanaan Kota Komprehensif, Gadjah Mada University Press, 1996

[5] Werner Rutz, Urbanization of the Earth 4, Cities and Towns in Indonesia,Stuttgart,Berlin, 1987

[6] Bagus Wiryomartono, Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia, 1994

[7] Bagus Wiryomartono, Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia, 1994

[8] Hans Dieter Evers & Rudiger Korff, Urbanismo di Asia Tenggara, Yayasan Obor Indonesia, 2002

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: